oke, jadi aku mau ngelanjutin yang tadi ya :)
mengenai alasan aku resign, ada beberapa faktor lagi sih yang mempengaruhi. mungkin aku udah cerita ke beberapa temen deketku.
terlalu banyak kenangan pahit di Jakarta (cieh)
bukan, bukan itu kok
Aku memutuskan tidak mau menetap di Jakarta
menurutku, Jakarta sudah terlalu sesak. Mungkin untuk bekerja saja, okelah. tapi membangun keluarga di Jakarta? hmmm... maaf, kayaknya aku nggak tertarik..
soalnya, kalau di Jakarta, maka aku dan suamiku mau nggak mau harus kerja dua-duanya buat memenuhi kebutuhan hidup, anak sekolah, tabungan hari tua, dll dll, iya gak sih?
kalo kerja dua2nya.. ntar pas punya anak yang susah. cuti cuma boleh 3 bulan saja, trus habis itu anak diurusin sama siapa?
sementara beli tanah + rumah di Jakarta, aku pasti tak mampu.. gimana nggak, harganya udah diatas 1 M semua. suwun lho.
punya rumah pasti di pinggiran Jakarta. Hasilnya? berangkat subuh, pulang habis isya. trus si anak sama siapa? yakin percaya sama pembantu? kalo lihat pergaulan anak jaman sekarang, aku kok miris ya..
untuk pendidikan anak juga. harus pinter2 milih sekolah. salah-salah ntar anaknya nggak mau pulang ke rumah (lho)
huf.. untuk dapet lingkungan dan pekerjaan yang nyaman itu susah ya di sini.
that is why,
I resign.
ada lagi sih. soal lifestyle.
gaya hidup di sini sudah bukan kebutuhan tersier, tapi juga kebutuhan primer. Aku sudah mulai merasakan nih. gimana enggak, sabtu minggu pasti kita-kita pingin keluar kosan dong, jalan.. kemana gitu, ngopi.. keluar uang minimal 100 rb, belum kalo kepingin baju, kepingin ini kepingin itu. woof.
pola hidupku lama-kelamaan jadi konsumtif, dan itu nggak sehat. buat dompet.
yang seharusnya aku bisa menabung, ternyata malah habis buat beli beli.
well, aku juga jadi pingin menceritakan sebuah kisah.
temanku, saat ini bekerja di salah satu kota di Jawa Barat.
dulu aku mengenalnya dengan baik ketika sekolah. dia adalah pribadi yang sederhana, ndak macem-macem, dan orang yang selalu penasaran akan sesuatu.
lulus sekolah, dia pindah ke Jakarta.
beberapa tahun di Jakarta membuat ia berubah. update selalu di tempat yang instagram-able seperti resto, cafe, dll.
dia bahkan mulai perawatan wajah yang biayanya diatas 1 juta.
ndak mau kalo bukan pakai yang branded.
hm. sekarang dia bekerja, dan bahkan masih dikirimiuang saku dari orang tuanya. (yang ini agak aneh). Terjebak lifestyle, akhirnya dia kehabisan uang, dan ujung-ujungnya berhutang ke teman temannya (termasuk saya). yang ini makin aneh lagi, mengingat gaya hidupnya yang seperti itu.
sebenarnya yang dihutangi tidak masalah sih, tapi mbok ya berpikir rada cerdas gitu lho. trus gajimu sekarang buat apa? uang saku dari orang tuamu dibuat apa sih?. Berhutang itu ya buat hal-hal pokok dalam hidupmu. contoh: bayar kontrakan, makan sehari-hari di warteg, beli seragam untuk ke kantor.
kalo ternyata berhutang, trus dibuat pergi ngunjungin pacarnya di Jakarta, ya buat apaa....
dan anehnya, temanku ini selalu update kemana dia pergi kemana dia makan, padahal sebelumnya dia berhutang. yang memberi hutang ini lho, gemesssss.... ini anak, uangnya bukan dibuat hal penting, malah dibuat pacaran... kan kezel
lho, kok malah jadi ghibah. astaghfirullah...
itu cuma sekelumit kisah tentang salah satu teman di Jakarta. Jakarta memang bisa merubah pribadi seseorang, dan ini salah satu contoh yang buruk. Darimana dia dapat pengaruh seperti itu kalau tidak dari teman-temannya?
maka pintar2lah berteman ya nak, dan beranilah menolak ajakan nongkrong kalau memang tidak penting-penting amat.
Well yah. Jakarta memang ladang uang. akses kemana mana mudah, dan apapun ada di sini.
It is a nice place, but not a good place to stay.
bye!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
update kehidupan
baiklah, sekarang saatnya update kehidupan ya.. hehehe udah lama ga update, trua lihat postingan terakhir jadi geli sendiri. wkwkwkwk bisa ...
-
- continued trus pas SMA, akhirnya kita ke tempat facial kenalannya mami, di daerah lingkar timur sana, namanya Bu Goras. Hampir tiap min...
-
Alhamdulillah... akhirnya weekendku tenang, setelah beberapa kejadian bertubi-tubi 2 minggu ini tiap weekend. Baiklaa.. aku mau share sedik...
-
Yaak, karena malam ini ada yang lagi galau, gegara kangen sama yang ada di nun jauh di sana, well, aku mau cerita gimana dulu pas jadian per...
No comments:
Post a Comment